Setelah menghabiskan paruh pertama dekade ini sebagai "tamu kehormatan" dan kolaborator paling dicari di industri musik pop, Bruno Mars akhirnya menanggalkan seragam sersan pesta-nya. The Romantic, album studio solo pertamanya dalam rentang waktu sepuluh tahun sejak rilisnya 24K Magic (2016), datang dengan beban ekspektasi yang luar biasa masif. Di atas kertas, album ini adalah sebuah surat cinta yang ditulis di atas lembaran wangi dengan tinta emas—megah, berlebihan, dan secara sonik nyaris tanpa cela. Namun, di tengah gempuran produksi yang memekakkan telinga dengan kesempurnaannya, muncul satu pertanyaan kritis: apakah presisi teknis mampu menyelamatkan sebuah romansa dari sterilitas emosional? Untuk benar-benar memahami lanskap perilisan The Romantic, kita wajib membedah rekam jejak Mars yang luar biasa cemerlang belakangan ini. Ia adalah sang maestro yang membangkitkan arwah R&B era 70-an menjadi emas murni pemenang Grammy bersama Anderson .Paak dalam proyek Silk So...
Musim liburan di 2024 lalu, Brat memang menjadi standar meme dan fenomena dimana-mana termasuk Indonesia walaupun pendengar musik Indonesia ada yang tidak tahu Brat setidaknya cover albumnya dengan latar hijau dan font yang simple menjadi standar meme sampai saat ini. Brat menjadi ikon pop culture sepanjang dekade ini dan menginfluence musik hyperpop untuk beberapa musisi seperti PinkPantherees dan juga bahkan musisi Indonesia, Naykilla. Bagaimana dengan Wuthering Heights ? adalah betapa alami dan khas rasanya album ini. Ini memang bukan Brat. Sound di album ini menjangkau lebih dalam lagi, dan dieksplorasi lebih gelap dan menghasilkan seni yang valid, sinematik dan berharga dalam prosesnya. Menjadi Soundtrack Album di film yang berjudul sama membawa lanskap dan vibes khas zaman Medieval dipenuhi dengan nuansa Y2K menjadi satu. Sutradara film ini "Emerald Fennel" terkenal dingin dan merenterpresi sinematik musik Charli dengan ...