Skip to main content

Review Album : Bruno Mars - The Romantic


Setelah menghabiskan paruh pertama dekade ini sebagai "tamu kehormatan" dan kolaborator paling dicari di industri musik pop, Bruno Mars akhirnya menanggalkan seragam sersan pesta-nya. The Romantic, album studio solo pertamanya dalam rentang waktu sepuluh tahun sejak rilisnya 24K Magic (2016), datang dengan beban ekspektasi yang luar biasa masif. Di atas kertas, album ini adalah sebuah surat cinta yang ditulis di atas lembaran wangi dengan tinta emas—megah, berlebihan, dan secara sonik nyaris tanpa cela. Namun, di tengah gempuran produksi yang memekakkan telinga dengan kesempurnaannya, muncul satu pertanyaan kritis: apakah presisi teknis mampu menyelamatkan sebuah romansa dari sterilitas emosional? 

Lady Gaga, Bruno Mars With New Duet 'Die With a Smile'

Untuk benar-benar memahami lanskap perilisan The Romantic, kita wajib membedah rekam jejak Mars yang luar biasa cemerlang belakangan ini. Ia adalah sang maestro yang membangkitkan arwah R&B era 70-an menjadi emas murni pemenang Grammy bersama Anderson .Paak dalam proyek Silk Sonic. Belum puas di situ, ia memamerkan kapasitas vokalnya yang teatrikal dan penuh darah bersama Lady Gaga dalam balada powerhouse "Die With A Smile", sebuah lagu yang terasa seperti ledakan emosi mentah. Tak lama berselang, ia dengan lincah melompat ke ranah pop-rock quirky yang sangat catchy dan ugal-ugalan bersama Rosé BLACKPINK dalam mega-hit global "APT.". Rentetan mahakarya ini membuktikan fleksibilitas Mars; ia bukan sekadar penyanyi pop, ia adalah sebuah event budaya yang bisa beradaptasi dengan genre apa pun. Namun, ketika tiba gilirannya untuk memegang kendali penuh atas narasinya sendiri, Mars justru memilih rute yang paling aman: menjadi karikatur dari dirinya sendiri yang paling perfeksionis.

Mungkin gambar piano dan topiAlbum yang berisi sembilan lagu dengan total durasi 31 menit ini dibuka dengan "Risk It All", sebuah nomor yang digerakkan oleh elemen nostalgia yang sangat kental. Mars, bersama kolaborator setianya, produser D'Mile, tahu betul cara meracik groove yang memabukkan. Lewat visual musik videonya yang menampilkan nuansa pernikahan elegan, lagu ini menjadi gerbang pembuka yang pas. Di track selanjutnya seperti "God Was Showing Off", bassline yang renyah berpadu harmonis dengan aransemen yang sangat terinspirasi dari era Philly soul. Ini adalah senjata lantai dansa yang dikalibrasi dengan presisi tingkat tinggi. Vokal Mars, seperti yang selalu kita harapkan, sehalus mentega—meluncur sempurna di atas aransemen brass section dan instrumen yang direkam secara analog murni. Namun, di paruh pertengahan album, masalah struktural The Romantic mulai terlihat jelas. Pendekatan pastiche (imitasi gaya masa lalu) yang menjadi peluru utamanya kini terasa seperti template yang mulai aus. Jika "APT." bersama Rosé terasa seperti pesta yang spontan, kacau, dan menyenangkan, The Romantic justru terasa seperti acara gala dinner yang sangat kaku, di mana semua tamu undangan terlalu takut untuk menumpahkan anggur ke atas karpet mahal. Semuanya terlalu tertata. 

Bruno Mars 

Mari kita ambil contoh "Nothing Left", power ballad bertema perpisahan yang ditempatkan secara strategis di paruh akhir album. Secara vokal, Mars mengeksekusi rentetan run dan falsetto-nya tanpa cacat, beralih dari instrumentasi sederhana hingga memuncak menjadi sesuatu yang sangat megah. Namun, sayangnya, liriknya terjebak dalam klise patah hati kaum jetset yang terasa dangkal. Saat mendengarkan lagu ini, kita tidak merasakan keputusasaan yang raw dan rentan seperti yang sukses ia sampaikan saat beradu vokal dengan Gaga di "Die With A Smile". Emosi di The Romantic terasa disintesis di dalam studio tertutup, bukan dialami secara nyata di dunia luar. Di ranah produksi quiet storm yang diusungnya, Mars menciptakan apa yang bisa disebut sebagai "dinding suara" (wall of sound) yang terlalu padat dan licin. Transisi menuju lagu penutup, "Dance With Me", menonjolkan harmoni vokal berlapis dan aransemen strings (dawai) yang luar biasa mewah. Sayangnya, eksekusi yang kelewat mulus ini justru menanggalkan ruang bernapas untuk "kotoran", tarikan napas yang tersendat, atau improvisasi vokal minor yang seharusnya membuat musik soul terasa membumi dan manusiawi. Mars terdengar seperti sedang menyutradarai sebuah musikal Broadway berbujet fantastis ketimbang mencurahkan isi hatinya. Ia terlalu asyik mengkurasi estetika vintage hingga lupa menyuntikkan nyawa yang berdenyut ke dalamnya.

Paradoks terbesar dari The Romantic adalah kenyataan bahwa ini sama sekali bukanlah album yang buruk. Sebaliknya, ini adalah album yang terlalu bagus dan terlalu rapi secara teknis. Bruno Mars telah membuktikan bahwa ia adalah seorang pengrajin musik pop (pop craftsman) yang brilian—mungkin sosok terbaik yang dimiliki oleh generasinya saat ini. Tidak ada satu pun nada sumbang, mixing yang meleset, atau progresi akor yang salah tempat di sepanjang 31 menit durasinya. Untuk audiens radio arus utama dan playlist kafe ibu kota, album ini adalah amunisi yang sangat solid, aman, dan dijamin laku keras.

Bruno Mars Press Handout 2026 The Romantic-4Namun, dengan segini, kita harus mengakui bahwa bagi seorang artis sekelas Bruno Mars—yang telah membuktikan bahwa ia bisa menjadi liar, aneh, dan mendalam di proyek-proyek kolaborasinya—kembalinya ia ke zona nyaman retro-pop ini terasa seperti sebuah antiklimaks yang sangat disengaja. The Romantic ibarat kencan di restoran fine dining Michelin Star: teknik memasak chef-nya sempurna, plating-nya indah tak bercela, dan piringnya bersih dari noda, tetapi Anda pulang menatap jendela taksi tanpa ada satu pun percakapan mendalam yang membuat Anda benar-benar jatuh cinta. The Romantic adalah sebuah karya yang indah untuk dipandang dan nyaman untuk didengar, namun pada akhirnya, ia gagal meninggalkan bekas luka yang membekas di hati pendengarnya.

 

 

Dirilis : 27 Februari 2026

Label : Atlantic

Durasi : 31 menit

Produser :  Bruno Mars & D'Mile


 

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu Balas Dendam paling Ikonik

  Lagu-lagu tentang belas dendam kebanyakan memanfaatkan emosi yang mentah tanpa diolah dan meledak begitu saja. Hal ini berkaitan erat tentang pengkhianatan, kemarahan, dan keinginan akan keadilan, dan menciptakan narasi kuat yang beresonansi dengan pendengar. Baik itu mengatasi patah hati, menghadapi penipuan, atau merebut kembali kekuatan pribadi, lagu-lagu ini mengeksplorasi kompleksitas balas dendam dengan cara yang dapat dihubungkan dan katarsis. Melalui berbagai genre, artis menggunakan tema balas dendam untuk menceritakan kisah pemberdayaan, ketahanan, dan transformasi. Menawarkan pendengar cara untuk menyalurkan pengalaman mereka sendiri dan menemukan kekuatan itu dalam musik. Berikut daftar 10 lagu tentang balas dendam yang aku pikir ikonik. Perlu diingat ini hanyalah konten list, jangan ke-trigger yah. 10. "Bad Blood" dari Taylor Swift ft Kendrick Lamar Ini adalah salah satu lagu pop tentang pengkhianatan dan keinginan untuk membalas dendam di abad ini. Dirilis pad...

Kilas Balik : Bad Bunny - YHLQMDLG (Mengubah Lanskap Reggaeton Secara Gamblang)

  x 100Pre memang menjadikan nama Bad Bunny terkenal dengan single hits worlwide nya bersama nama besar Drake. Tetapi album ini mengubah Bad Bunny menjadi BAD BUNNY yang kita kenal sekarang menjadi fenomena global. Di Indonesia mungkin namanya tidak terlalu dikenal tapi beberapa lagunya sempat menjadi trending di sosial media dunia termasuk Indonesia. Dengan gaya originalnya sekarang, artis Puerto Rico itu merilis album di tahun 2020, awal dari bencana pandemi COVID-19. Dimana ruang pesta dibatasi tetapi ruang ekspresi semakin terbuka lebar untuk beberapa seniman termasuk Bad Bunny. Album ini mendapatkan kedudukan tertinggi pertama untuk dirinya, memecahkan rekor, dan menyelamatkan kita atas kejenuhan pada pandemi saat itu. Tak banyak yang bisa melakukan gambaran dari pikirannya. Dibuka dengan gambaran momen pesta dan bunuh diri secara bersamaan. Tema itu ada pada lagu Si Veo a Tu Mamá sebagai hidangan pembuka album ini. Kita melihat seorang pemuda putus asa, berdiri diatas pangku ...