Skip to main content

Review Lady Gaga - Mayhem : Sang Mother Monster kembali dengan sosok dobrakan

 

MAYHEM terus diperbincangkan bahwa album ini akan kembali ke akar musiknya sebagai sosok "Mother Monster" di era The Fame Monster dan Born This Way yang menjadi oase untuk para pendegar Gaga yang kangen dengan sosok yang biasa kita kenal nyentrik dan aneh. Setelah Artpop sang "Mother Monster" itu telah pergi dari raga Gaga dan mengenalkan kita pada; Gaga yang lebih jazzy saat bersama Tony Bennet. Gaga yang menjadi wanita americana di Joanne. Lalu Gaga menjadi gadis desa bertemu dengan pria tampan (Braddley Cooper) membentuk asrama balada bersama di A star Is Born. Gaga menjadi seperti "Mother Cyberpunk" dengan throwback musik house 90'an di Chromatica. Gaga bertemu dengan Joker, sang penjahat gila yang menjadi simbol kota Gotham dan membentuk harmoni jazzy sama seperti saat bersama Tony Bennet. Dan terakhir perjalanan Gaga bertemu dengan arsitek melodi hits mainstream Bruno Mars di "Die With A Smile", menggetarkan jiwa "Mother Monster" untuk kembali ke dalam raga Gaga dengan sosok bentuk kumpulan dari perjalanannya yang panjang melintas berbagai macam lintasan musik yang ia jalani dan berubah wujud menjadi MAYHEM.

Dibuka dan ditunjukkan sosok itu dalam "Disease", penggabungan momen dance pop dengan gaya nyanyian heavy metal ala Born This Way dan bagian chorus mengingatkan suara Gaga di lagu era Joanne pada lagu "Perfect Illusion". Seperti dalam video klipnya, Ini adalah pertarungan dengan dirinya yang dulu sangat gothic dan gelap; pakaian kulit hitam nyentrik dengan masker ber-resleting, mata merah dan kuku panjang. Bertarung melawan dirinya yang polos, yang sudah melintasi pengalaman genrenya dengan pakaian putih polos bercampur tinta hitam dan muka yang pucat. Ia menerima kekalahan atas luka-luka yang ia jalani dan mencoba menyatu dengan sang "Mother Monster". Ternyata pertarungan mereka berlanjut dalam "Abracadbra" didalam arena dengan suasana tempat lahirnya sang "Mother Monster", The Fame. Sosok "Mother Monster" ini terasa seperti "Bad Romance" dengan atmosfer dance pop akhir 2000'an dengan kesan gelap dan teatrikal. Lalu sosok Gaga yang polos tadi terasa seperti era Chromatica dengan musik synth dan electronic beat yang kuat. Dua elemen ini seperti mantra yang kuat untuk membentuk Lady Gaga di era MAYHEM.
"Garden of Eden" adalah pematangan dari akar musik dari Artpop dan meminjam dna Nelly Furtado dengan gaya centilnya dengan tema lirik ala Gaga. Ia berperan sebagai ular untuk menggoda pendengar membuat keputusan yang buruk dan sensual, ia telah menjadi sisi gelap versi dirinya. Seiring berjalannya album, Gaga mengalihkan fokus ke persepsi dan identitas di "Perfect Celebrity". Ini adalah musik pop rock yang membahas paradoks ketenaran. Ia dipandang sempurna walau ia terkadang bisa rasakan dan tidak. Mencerminkan penipuan "Garden of Eden", dia menantang gagasan ketenaran ditemani emosinya yang raw dengan musik electric rock, seperti dirinya di Born This Way bertemu dengan dirinya yang baru lahir dulu The Fame. Dirinya sebagai "Mother Monster" kini dengan mudah ditangani. "Vanish into You" adalah pop dengan elemen glam rock ala David Bowie. Ia mengungkap keinginannya untuk larut sepenuhnya dalam sosok yang dicintainya, menciptakan suasana emosional yang mendalam. sang "Mother Monster" telah berdamai dan merayakan kehidupan,cinta, dan warisan dari Gaga untuk kedepannya. Ia membawa dirinya di The Fame dengan lirik yang nakal tetapi dengan sentuhan funk Prince dan ala Bowie. Seperti yang kita tahu pada saat Gaga melepas "Mother Monster" dan menjalani lintasan musiknya, ia mengambil referensi darinya.

Sang "Mother Monster" disini bertindak dengan masihnya musik funk dimainkan, Ia memberi penghormatan pada teman sekaligus lawan mainnya pada video klip "Born This Way" di "Zombieboy". Dengan sentuhan ala glam rock dan bumbu gaya nyanyiannya di Artpop dan The Fame, bisa dibilang adalah langkah yang berani bagi sang "Mother Monster". Ini sama halnya dengan trek "LoveDrug" kesan seperti ala Future Nostalgia tapi dengan warna Gaga. Pernah mendengar Gaga menjadi pop yang sangat lembut dan ringan? Yah kita pernah kenal dengan dia di "The Cure", dan sepertinya Gaga cocok menjadi kolaborasi Taylor Swift di trek "How Bad Do U Want Me". Nuansa synth pop era album 1989 dan Reputation yang terasa seperti ditangan Max Martin. Kita kembali lagi diajak menghentakan lantai dansa di lagu "Don't Call Tonight" dan "Shadow Of A Man". Kita hampir di penghujung pesta nya Little Monster. "The Beast" dan "Blade Of Grass". Terutama pada trek "Blade Of Grass" Gaga menyampaikan tentang pertunangannya dengan Polansky. Dia terdengar sangat lelah sehingga kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi padanya jika cinta tidak diganggu oleh campur tangan siapapun. Ketulusannya yang penuh diutarakannya pada trek akhir yang kita tahu duet yang tidak disangka-sangka di "Die With A Smile". Duet soft-rock yang diurutkan diakhir ini seperti pembersih langit-langit setelah pesta yang menggelegar menyambut Little Monster yang telah kembali dan berevolusi dan menjadi resolusi MAYHEM adalah "cinta".


Kembalinya Gaga ke permukaan musik dan mencoba sound yang berbeda dengan tidak membawa RedOne sebagai kolaborator produsernya, sekarang adalah momen yang sangat tepat waktu. Pada saat pemimpin Amerika berusaha mendorong warganya yang terpinggirkan kembali ke dalam bayang-bayang, Gaga mengundang pendengar kembali ke lantai dasa. Ia menjelaskan bahwa dia adalah salah satu bintang pop yang lebih sempurna. Seorang artis dengan rasa diri dan identitas yang tak tergoyahkan yang dapat mereferensikan diri tanpa terasa seperti permainan murahan berkedok untuk nostalgia. Karena bahkan ketika Gaga memikirkan masa lalu, matanya selalu terpaku pada masa depan.

Super Track : Perfect Celebrity

Genre : Dance Pop, Synth Pop, Electropop, Industrial Rock, Funk, Disco

Tanggal Rilis : 7 Maret 2025

Label : Streamline, Interscope

Producer : Cirkut, D'Mile, Gesaffelstein, Lady Gaga, Bruno Mars, Andrew Watt

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu Balas Dendam paling Ikonik

  Lagu-lagu tentang belas dendam kebanyakan memanfaatkan emosi yang mentah tanpa diolah dan meledak begitu saja. Hal ini berkaitan erat tentang pengkhianatan, kemarahan, dan keinginan akan keadilan, dan menciptakan narasi kuat yang beresonansi dengan pendengar. Baik itu mengatasi patah hati, menghadapi penipuan, atau merebut kembali kekuatan pribadi, lagu-lagu ini mengeksplorasi kompleksitas balas dendam dengan cara yang dapat dihubungkan dan katarsis. Melalui berbagai genre, artis menggunakan tema balas dendam untuk menceritakan kisah pemberdayaan, ketahanan, dan transformasi. Menawarkan pendengar cara untuk menyalurkan pengalaman mereka sendiri dan menemukan kekuatan itu dalam musik. Berikut daftar 10 lagu tentang balas dendam yang aku pikir ikonik. Perlu diingat ini hanyalah konten list, jangan ke-trigger yah. 10. "Bad Blood" dari Taylor Swift ft Kendrick Lamar Ini adalah salah satu lagu pop tentang pengkhianatan dan keinginan untuk membalas dendam di abad ini. Dirilis pad...

Review Album : Bruno Mars - The Romantic

Setelah menghabiskan paruh pertama dekade ini sebagai "tamu kehormatan" dan kolaborator paling dicari di industri musik pop, Bruno Mars akhirnya menanggalkan seragam sersan pesta-nya. The Romantic, album studio solo pertamanya dalam rentang waktu sepuluh tahun sejak rilisnya 24K Magic (2016), datang dengan beban ekspektasi yang luar biasa masif. Di atas kertas, album ini adalah sebuah surat cinta yang ditulis di atas lembaran wangi dengan tinta emas—megah, berlebihan, dan secara sonik nyaris tanpa cela. Namun, di tengah gempuran produksi yang memekakkan telinga dengan kesempurnaannya, muncul satu pertanyaan kritis: apakah presisi teknis mampu menyelamatkan sebuah romansa dari sterilitas emosional?  Untuk benar-benar memahami lanskap perilisan The Romantic, kita wajib membedah rekam jejak Mars yang luar biasa cemerlang belakangan ini. Ia adalah sang maestro yang membangkitkan arwah R&B era 70-an menjadi emas murni pemenang Grammy bersama Anderson .Paak dalam proyek Silk So...

Kilas Balik : Bad Bunny - YHLQMDLG (Mengubah Lanskap Reggaeton Secara Gamblang)

  x 100Pre memang menjadikan nama Bad Bunny terkenal dengan single hits worlwide nya bersama nama besar Drake. Tetapi album ini mengubah Bad Bunny menjadi BAD BUNNY yang kita kenal sekarang menjadi fenomena global. Di Indonesia mungkin namanya tidak terlalu dikenal tapi beberapa lagunya sempat menjadi trending di sosial media dunia termasuk Indonesia. Dengan gaya originalnya sekarang, artis Puerto Rico itu merilis album di tahun 2020, awal dari bencana pandemi COVID-19. Dimana ruang pesta dibatasi tetapi ruang ekspresi semakin terbuka lebar untuk beberapa seniman termasuk Bad Bunny. Album ini mendapatkan kedudukan tertinggi pertama untuk dirinya, memecahkan rekor, dan menyelamatkan kita atas kejenuhan pada pandemi saat itu. Tak banyak yang bisa melakukan gambaran dari pikirannya. Dibuka dengan gambaran momen pesta dan bunuh diri secara bersamaan. Tema itu ada pada lagu Si Veo a Tu Mamá sebagai hidangan pembuka album ini. Kita melihat seorang pemuda putus asa, berdiri diatas pangku ...