Billie Eilish telah mengukuhkan dirinya dalam budaya pop berkat bakatnya yang luar biasa dan kemampuannya untuk terhubung dengan khalayak melalui musiknya yang unik dalam industri pop. Ia pun berhasil masuk dalam 100 album terbaik di beberapa artikel kritikus musik, termasuk daftar terbaik dari Apple Music. Sebuah prestasi yang luar biasa dalam industri musik untuk artis yang masih muda. Album debutnya When We All Fall Asleep, Where Do We Go? adalah salah satu album ikonik dalam industri musik di era Gen-Z. Ia menciptakan pop yang melankolis, keterbukaan tentang masalah mental, dan menciptakan trendsetter remaja yang unik. Billie langsung menjadi primadona dalam ajang Grammy pada waktu itu. Semua kategori utama adalah namanya. Jelas, tidak diragukan lagi bahwa ia adalah salah satu bintang terbesar pada abad ini. Seluruh diskografinya layak untuk didengarkan. Tentu butuh beberapa waktu kita untuk menentukan peringkat karena semua diskografinya begitu essensial. So here the list.
4. Don't Smile At Me
3. When We All Fall Asleep, Where Do We Go?
2. Happier Than Ever
Pada album keduanya, Billie menjauh dari estetika gelap debutnya, untuk proyek yang lebih dewasa dan mendalam. Happier Than Ever membahas tentang naiknya popularitas Billie yang begitu muda, serta sorotan yang ia hadapi dari media atas tubuhnya, dan putus cinta yang dialaminya pada saat itu. Tema ini dibawa lebih dalam namun menghanyut dalam lagu-lagunya seperti "Your Power", Billie membahas topik-topik seksualitas dan pelecehannya oleh orang-orang yang mempunyai kuasa atas derajatnya. Selain itu, "My Future" dan "Therefore I Am" menunjukkan pertumbuhan dan kedewasaanya seiring bertambahnya usia. Sisi gelap Billie masih terasa pada lagu yang disebut kedua tadi. Bagi kebanyakan orang, ini adalah album yang masih kurang disukai dibanding album sebelumnya, karena trek yang banyak seakan membengkak dan tidak se kohesif sebelumnya. Tetapi produksi album ini jauh lebih baik dan dikuasai secara professional. Pada lagu "Happier Than Ever" adalah momen dimana kemampuan Billie dan Finneas meningkat jauh. Bernyanyi dengan tenang dan meng-whisper kita diawal saat ia merasakan sakitnya pada putus cinta diiringi dengan gitar yang melankolis. Transisi mulus ini mengamuk di akhir dengan gitar listrik yang menyeimbangkan ritme diawal dengan suara teriakan latar Billie yang sakit dan ditutup dengan distorsi ala "Karma Police"nya Radiohead. Lalu eksperimen Hyperpop terinspirasi dari Charli XCX namun dengan gaya musik melankolisnya Billie di "NDA". Dan ini adalah titik pematangan untuk sound Billie seterusnya. Cobalah denger album ini beberapa kali maka kamu akan merasakan sekali betapa naik kelasnya produksi pada album ini.
1. HIT ME HARD AND SOFT
Di dunia di mana tren datang dan pergi dengan sangat cepat pada industri musik yang harus melayani kemauan chart musik, Billie datang dengan berdiri tegak menjadi keaslian seninya yang tak tertandingi. Aku sudah pernah bahas di blog sebelumnya https://jmusic21.blogspot.com/2024/05/review-hit-me-hard-and-soft-taylor-bisa.html. Di usia yang 22 tahun ini membuktikan sekali lagi bahwa dia adalah bintang pop yang kuat dan harus diperhitungkan, termasuk Finneas sebagai produser. Meninggalkan isu-isu sosialnya dan fokus kepada masalah hatinya. Bila di Happier Than Ever adalah eksplorasi dengan bagaimana mematangkan soundnya, di HIT ME HARD AND SOFT seolah menjadi wujud pematangannya. "SKINNY" jelas bahwa Billie tidak puas berdiam diri berjuang melawan sisi gelap ketenarannya dan lebih berani mencurahkannya secara emosional dan berpetualang dengan sonik musik barunya. Ia terus lanjut tanpa henti, tanpa jeda pada lagu "LUNCH". Semakin kuat dia utarakan identitas dirinya dengan bassline Finneas yang menghentak, lirik yang nakal, dan hook yang terngiang di kepala. "CHIHIRO" sampai "BITTERSUITE" seperti lagu yang mempunyai dunia tersendiri, mengundangmu tenggelam dalam lanskap suara yang indah dan cerita yang hidup. "BIRDS OF A FEATHER" adalah pembuktian bahwa Billie dapat membawakan pop ringan dengan tetap mempertahankan esensi gaya suaranya dengan musik synth dan drum machine yang catchy dan easy listening. Dibalut tentang isi lirik cinta yang manis namun suram ditemani dengan latar whispering nyanyiannya dan tempo naiknya suara dari Billie (salah satu lagu mainstream terbaik sepanjang dekade ini). "WILDFLOWER" yang memilukan menggambarkan hubungannya yang rumit dengan referensi nama perusahaan mantan pacarnya. "THE GREATEST" adalah versi sempurna dari lagu "Happier Than Ever" dengan emosionalnya yang menggebu. "L'AMOUR DE MA VIE" dengan eksperimental jazz yang sinematik berubah di bagian keduanya menjadi Hyperpop dengan sangat emosional walaupun dengan efek autotune. Sosok pendewasaan pada tema album debutnya di "THE DINER" yang mengambil alih ketakutan mimpi buruknya dan menjadi dia sebagai pemerannya di dalam bayang-bayangnya. "BITTERSUITE" yang aneh dan menggoda menggambarkan kisah hubungan selebritas yang terjadi dalam balik pintu hotel. Dan "BLUE" adalah rangkuman kesedihannya, emosionalnya, kesabarannya dan ketidak berdayaannya, dengan penutup "But when can I hear the next one?". Yah kapan kita mendengar Billie selanjutnya. Secara musikal, album ini menawarkan penyempurnaan dari karya Eilish dan Finneas yang sudah mapan, memadukan keintiman akustik analog dengan elektronika yang dijalin dengan cekatan, vokal lembut Eilish di depan dan di tengah, campuran sensual dari vokal latarnya yang diolah dengan indah. Album ini bukan hanya bisa di pilih salah satu treknya dan diulang seterusnya. Tetapi satu lagu yang saling terkait dan mempunyai benang merah yang panjang menjadi sebuah album.





Comments
Post a Comment